Dari Kisah Ayah hingga Karya Sastra, Cerita di Balik Prestasi Wulan Nurbaiti

Bagi Wulan Nurbaiti, menulis bukan sekadar merangkai kata menjadi cerita. Ada pengalaman, nilai kehidupan, dan pesan mendalam yang ingin ia sampaikan melalui setiap kalimat. Berangkat dari kisah sang ayah, mahasiswa Program Studi S1 Akuntansi Universitas Mercu Buana (UMB) ini berhasil meraih Juara 3 cabang lomba cerpen dalam kompetisi Fransseda yang diselenggarakan Universitas Katolik Atma Jaya pada 10 Oktober 2026.

Cerpen berjudul Tapak Tilas Menuju Tuhan yang Sama menjadi karya yang mengantarkan Wulan meraih prestasi tersebut. Melalui cerita ini, ia mengangkat gagasan tentang ilmu yang menjelaskan dan iman yang merelakan, dua hal yang menurutnya dapat berjalan beriringan dalam perjalanan manusia menghadapi berbagai pengalaman hidup.

Inspirasi cerita tersebut berawal dari sosok ayah yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupannya. Sang ayah selalu mengajarkan bahwa ilmu dan iman merupakan dua hal penting yang membantu manusia tetap utuh, bahkan ketika harus menghadapi luka, trauma, maupun kekecewaan yang berada di luar kendalinya.

Nilai itulah yang kemudian ingin Wulan tuangkan ke dalam karya sastra. Baginya, cerita bukan hanya tentang peristiwa yang dialami tokoh, tetapi juga tentang bagaimana seseorang memahami pengalaman, menerima kenyataan, dan menemukan makna di baliknya.

Dua Minggu Mendalami Makna di Balik Kata

Di balik cerpen yang berhasil meraih penghargaan, terdapat proses kreatif yang tidak sederhana. Wulan menghabiskan waktu sekitar dua minggu untuk mengembangkan ceritanya. Ia mencari berbagai referensi tentang majas dan sajak agar dapat menyampaikan gagasan melalui bahasa yang kaya makna.

Tantangan semakin terasa ketika ia harus mengolah sejumlah frasa dan istilah dari bahasa Jawa Klaten yang memiliki nuansa makna mendalam dan halus. Ia perlu memahami konteks serta tafsirnya agar setiap ungkapan dapat menyatu dengan alur cerita.

“Beberapa kali saya membuka KBBI, peribahasa, dan juga buku majas sampai berhalaman-halaman, lalu saya rangkai menjadi cerita utuh dengan tafsir dan makna yang indah,” ungkap Wulan.

Baginya, menulis cerpen tidak cukup hanya dengan menemukan ide. Penulis juga perlu memahami pilihan kata, membangun suasana, dan menyusun alur agar pembaca dapat mengikuti sekaligus merasakan emosi yang ingin disampaikan. Proses tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi Wulan dalam mendalami dunia kepenulisan.

Kejutan di Tengah Kesibukan Magang

Kabar prestasi itu datang di tengah kesibukannya menjalani magang di kantor. Wulan mengaku tidak menyangka akan meraih posisi juara dalam kompetisi tersebut.

“Alhamdulillah, senang banget, enggak nyangka,” tuturnya.

Saat sedang menjalani aktivitas magang, ia tiba-tiba mendapat telepon dari pihak admin yang memintanya hadir dalam acara Centennial Celebration Fransseda. Tak lama kemudian, sebuah pesan pribadi mengabarkan bahwa dirinya berhasil meraih Juara 3.

Kabar tersebut menjadi kejutan sekaligus kebahagiaan tersendiri. Usaha yang ia curahkan selama dua minggu untuk mendalami bahasa, merangkai majas, dan menyusun cerita akhirnya berbuah penghargaan.

Ilmu dan Iman sebagai Bekal Menjadi Manusia Utuh

Lebih dari sekadar pencapaian dalam kompetisi, pengalaman ini memberikan pelajaran yang ingin terus ia pegang. Melalui Tapak Tilas Menuju Tuhan yang Sama, Wulan ingin mengingatkan bahwa manusia membutuhkan ilmu untuk memahami kehidupan dan iman untuk menjalani berbagai hal yang tidak selalu dapat dijelaskan atau dikendalikan.

“Sebagai manusia, kita harus ingat bahwa iman saja tidak cukup. Kita harus memiliki ilmu untuk bisa menjadi manusia yang utuh,” ujarnya.

Ke depan, Wulan berharap dapat terus mengembangkan kemampuan menulis dan menghasilkan lebih banyak karya cerpen yang diterbitkan di berbagai media. Ia juga ingin menginspirasi generasi yang lebih muda untuk mengenal dan mencintai dunia literasi.

Baginya, menulis memiliki arti lebih luas daripada sekadar menghasilkan karya. Menulis merupakan salah satu gerakan literasi yang dapat membantu membuka wawasan dan mencegah kebodohan.

Dari kisah sang ayah hingga cerpen yang mengantarkannya meraih prestasi, Wulan menunjukkan bahwa sebuah karya dapat lahir dari nilai kehidupan yang sederhana, lalu tumbuh menjadi pesan bermakna bagi orang lain. Sebab, terkadang cerita yang paling menyentuh justru berawal dari pengalaman yang paling dekat dengan diri sendiri.