Fakultas Desain dan Seni Kreatif (FDSK) Unviersitas Mercu Buana menggelar pameran seni rupa yang bertajuk UrbanSTORMing; Rush of Imagination di  Atrium Gedung E Kampus Meruya, Jakarta Barat, selama dua pekan. Sejak hari pertama pembukaan, Sabtu (29/8) acara ini nyaris tak ada pengunjung, kecuali para pimpinan universitas dan tentunya anggota dekanat dan dosen FDSK. Sepinya pengunjung bisa dimengerti karena pameran ini diadakan di saat mahasiswa masih libur dari aktivitas perkuliahan. Namun, kesunyian tersebut justru menarik ketika ditempatkan dalam konteks sebuah pameran seni. Di tengah kebiasaan mengukur keberhasilan pameran melalui ramainya pengunjung, tingginya visibilitas, dan perhatian publik, absennya penonton menghadirkan ruang interpretasi. Kesunyian ruang pamer seolah berhadapan dengan ekspektasi tentang bagaimana sebuah pameran semestinya berlangsung. Pada titik inilah sinisme mulai terasa sebagai salah satu nada yang menonjol dalam UrbanSTORMing.Senyampang berada di sana, di tengah kesunyian itu saya justru merasakan keriuhan. Bukan keriuhan suara, melainkan keriuhan tanda  yang hadir melalui lukisan, audio-visual dan berbagai karya tiga matra lainya. Tanda-tanda itu seperti tidak pernah benar-benar diam. Mereka seakan saling berbicara, berdebat, sekaligus menyangkal makna yang lain.

Semakin lama saya berada di ruang pamer, semakin terasa bahwa kesunyian fisik justru membuka ruang bagi percakapan yang lebih riuh. Di ruang yang nyaris tanpa suara itulah saya menemukan sebuah paradoks: pameran ini sunyi sebagai peristiwa, tetapi riuh sebagai teks.