epedulian terhadap anak dengan keterlambatan bicara mengantarkan Tim Naraya dari Universitas Mercu Buana (UMB) meraih Juara 3 dalam Business Plan Competition LYCTION 2026 tingkat nasional. Kompetisi yang berlangsung secara daring pada 6 April–8 Juni 2026 tersebut mengumumkan pemenang pada 8 Juni 2026.

Tim Naraya beranggotakan Haniya Afaf Fathullah (NIM 43124010286), mahasiswa S1 Manajemen; Nisrina Hanifah (NIM 43224010075), mahasiswa S1 Akuntansi; dan Laura Amelia Karo (NIM 43224010147), mahasiswa S1 Akuntansi.

Ketiganya mengembangkan KAMA (Kata Pertama), platform digital yang dirancang untuk membantu orang tua mendampingi stimulasi bicara anak dengan speech delay. Layanannya mencakup skrining digital, modul stimulasi harian, pemantauan perkembangan anak, hingga konsultasi daring dengan tenaga profesional.

KAMA juga dirancang untuk menjangkau institusi pendidikan seperti PAUD, TK, dan daycare melalui fitur pemantauan perkembangan anak. Gagasan ini berangkat dari tantangan keluarga dalam mengakses layanan terapi, mulai dari biaya, waktu, jarak, hingga keterbatasan mobilitas.

“Kami belajar bahwa merancang bisnis bukan sekadar mengejar profit, melainkan tentang seberapa besar dampak yang bisa kita berikan untuk menyelesaikan masalah nyata di masyarakat,” ujar Nisrina.

Selama persiapan, ketiganya melakukan riset kebutuhan pengguna, menyusun model bisnis, mengembangkan konsep produk, serta merancang strategi pemasaran dan perencanaan keuangan. Mereka membagi tugas sesuai kompetensi masing-masing dan saling mengevaluasi gagasan agar KAMA memiliki manfaat sosial sekaligus potensi bisnis.

Lingkungan The Executeers Club (X-Club) turut menjadi ruang bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan bisnis dan kolaborasi. Bagi Haniya, pencapaian ini menjadi pengingat bahwa keberanian untuk memulai merupakan bagian penting dari proses belajar.

“Don’t be afraid to start small. Kita nggak pernah tahu sejauh apa satu langkah kecil bisa membawa kita, sampai akhirnya kita berani mengambil langkah pertama,” tuturnya.

Setelah kompetisi, Tim Naraya berencana menyempurnakan KAMA melalui validasi kebutuhan calon pengguna, pengembangan fitur, dan pematangan model bisnis. Mereka berharap gagasan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Prestasi ini menjadi bukti bahwa pembelajaran di perguruan tinggi dapat menjadi pijakan bagi mahasiswa untuk mengembangkan inovasi yang berangkat dari persoalan nyata.