Ketahanan pangan dan transisi energi tidak lagi dapat diselesaikan melalui pendekatan sektoral. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, transformasi digital, dan tuntutan penerapan prinsip keberlanjutan (Environmental, Social, and Governance/ESG), kolaborasi antara perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, dan regulator menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga daya saing nasional. Mengusung tema "Penguatan Keunggulan Kompetitif Berkelanjutan Sektor Pangan dan Energi Melalui Strategi Korporasi, Akuntabilitas, dan Penciptaan Nilai Jangka Panjang", forum ilmiah tersebut mempertemukan akademisi, praktisi, regulator, pelaku industri, dan mahasiswa untuk membahas strategi menghadapi perubahan lanskap ekonomi yang semakin kompleks.

Rektor Universitas Mercu Buana, Prof. Dr. Ir. Andi Adriansyah, M.Eng., yang membuka simposium sekaligus menjadi keynote speaker, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar menghasilkan lulusan. Menurutnya, kampus harus menjadi ruang lahirnya gagasan, riset, dan kolaborasi yang mampu menjawab tantangan pembangunan nasional.

Diskusi menghadirkan empat narasumber yang mewakili perspektif akademik dan industri, yakni Prof. Drs. Bernardinus M. Purwanto, M.B.A., Ph.D. dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Ir. Roy H.M. Sembel, M.B.A., Ph.D., CSA., CIB. dari IPMI International Business School, Prof. Dr. Wiwik Utami, Ak., M.Si., CA dari Universitas Mercu Buana, serta Dr. Drs. Johansyah Anwar, BBA., MBA (USA), CPAE (UK) selaku Presiden Komisaris PT Karunia Multifinance. Jalannya forum dipandu dosen FEB Universitas Mercu Buana, Dr. Daru Asih, M.Si.