Isu keberlanjutan pelabuhan nasional menjadi sorotan dalam sidang tertutup promosi doktor di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana (FEB UMB), Rabu (21/1/2026). Melalui kajian strategis terhadap Pelabuhan Tanjung Priok, sidang ini menegaskan peran pelabuhan tidak hanya sebagai simpul logistik, tetapi juga sebagai fondasi pembangunan ekonomi berkelanjutan Indonesia.

Promovendus atas nama Dahlan (NIM 67121020008) mempertahankan disertasi berjudul “Strategi Pengembangan Pelabuhan Tanjung Priok Menuju Pelabuhan Berkelanjutan di Indonesia”. Dalam sidang tersebut, Dahlan dinyatakan lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,92 dan tercatat sebagai lulusan doktor ke-59 FEB UMB.

Sidang dipimpin oleh Mas Wahyu Wibowo, MBA, Ph.D selaku ketua sidang. Bertindak sebagai promotor Prof. Dr. Veithzal Rivai Zainal, MM, MBA, CRGP, CRMP, dengan ko-promotor Prof. Dr. Indra Siswanti, MM, CRP, CSRS dan Dr. Sugiyono, M.Si. Komisi penguji juga melibatkan penguji luar universitas Prof. Umi Widyastuti, M.E., serta penguji luar komisi Dudi Permana, Ph.D.

Dalam pemaparannya, Dahlan menegaskan bahwa isu keberlanjutan menjadi agenda penting dalam pengelolaan pelabuhan, baik di Indonesia maupun secara global. Menurut dia, pelabuhan tidak hanya dipandang sebagai entitas bisnis jangka pendek, melainkan infrastruktur strategis yang harus mampu menopang kehidupan ekonomi dan sosial lintas generasi.

“Keberlanjutan itu sangat penting. Dalam proses bisnis, termasuk pelabuhan, kita tidak bisa hanya memikirkan hari ini, tetapi juga masa depan generasi mendatang,” ujar Dahlan saat sesi tanya jawab.

Ia menjelaskan, pemilihan Pelabuhan Tanjung Priok sebagai fokus kajian didasarkan pada pengalamannya yang panjang di sektor kepelabuhanan. Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat bergantung pada pelabuhan sebagai simpul utama distribusi ekonomi dan perekat persatuan nasional.

Menjawab pertanyaan mengenai proses studi doktoral, Dahlan mengakui adanya berbagai tantangan, baik teknis maupun nonteknis. Namun, ia menilai proses tersebut sebagai bagian penting dari pembelajaran intelektual.

“Pendidikan S3 memang menuntut kemampuan untuk menguasai berbagai aspek secara komprehensif. Otak harus terus diasah, karena belajar adalah cara untuk menjaga ketajaman berpikir,” katanya.

Pada akhir sidang, Dahlan menyampaikan harapannya agar Universitas Mercu Buana tetap konsisten mengembangkan kajian dan praktik keberlanjutan. Menurut dia, keberlanjutan bukan hanya kebutuhan institusi pendidikan, tetapi juga kebutuhan bangsa dan dunia.

“Keberlanjutan itu penting bagi Indonesia dan global. Kita hidup hari ini tidak akan bermakna tanpa memikirkan masyarakat dan generasi di masa depan,” ujarnya.

Dahlan memiliki latar belakang pendidikan lintas disiplin, mulai dari Diploma III Teknik Elektro di Politeknik Institut Teknologi Bandung, Sarjana Sistem Komputer, hingga Magister Manajemen, sebelum menempuh pendidikan doktoral di Universitas Mercu Buana. Ia juga berpengalaman panjang di industri pelabuhan dan logistik nasional serta aktif mempublikasikan karya ilmiah di jurnal internasional bereputasi, khususnya pada tema pelabuhan berkelanjutan, manajemen risiko, dan inovasi hijau.