Budaya meminta izin untuk menyampaikan pendapat dinilai mulai menggerus tradisi kebebasan berpikir di perguruan tinggi. Akademisi Rocky Gerung mengingatkan kampus harus kembali menjadi ruang lahirnya gagasan kritis, bukan institusi yang membatasi keberanian intelektual. Pesan itu ia sampaikan dalam seminar “23rd Anniversary of Management: Shaping the Future: Ethics, Innovation and Sustainability” yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa (Hima) Manajemen Universitas Mercu Buana (UMB) di Aula Rektorat Kampus Meruya, Jakarta Barat (13/7). Menurut Rocky, tradisi universitas sejak awal dibangun di atas kebebasan berpikir dan kebebasan mengemukakan argumentasi. Karena itu, ia menilai budaya meminta izin untuk menyampaikan gagasan bertentangan dengan hakikat kehidupan akademik.“Dalam dunia universitas tidak ada izin untuk mengajukan pikiran. Izin itu tradisi militer. Meminta izin berarti menyerahkan hak untuk berpikir,” ujar Rocky. Rocky mengatakan inovasi selalu berawal dari kemampuan membatalkan cara berpikir lama yang sudah tidak mampu menjawab tantangan zaman. Dalam konteks tersebut, ia menyebut berbagai persoalan seperti feodalisme, eksploitasi dalam sistem kapitalisme, hingga krisis lingkungan perlu dijawab melalui pendekatan baru yang mengedepankan etika lingkungan (environmental ethics) dan solidaritas kemanusiaan (human solidarity).
Ia pun menantang Universitas Mercu Buana untuk melahirkan kurikulum yang tidak hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga menghasilkan cara berpikir baru.
Berita Terbaru Lainnya
Rabu, 29 Juli 2026
Rabu, 29 Juli 2026