Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mengubah cara masyarakat mencari, mengolah, hingga memanfaatkan informasi. Perubahan tersebut bukan hanya mendorong transformasi layanan perpustakaan digital, tetapi juga menuntut pustakawan dan mahasiswa memiliki literasi digital yang lebih kuat agar mampu memanfaatkan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.
Isu tersebut menjadi pokok bahasan dalam Webinar Literasi Informasi Nasional bertajuk "Artificial Intelligence (AI) dan Masa Depan Perpustakaan Digital: Peluang dan Tantangan bagi Mahasiswa dan Pustakawan" yang diselenggarakan Perpustakaan Universitas Mercu Buana, Rabu (3/6), secara daring melalui Zoom dan disiarkan langsung di YouTube.
Kegiatan itu diikuti mahasiswa, pustakawan, akademisi, serta masyarakat dari berbagai daerah. Diskusi mengulas dampak AI terhadap ekosistem perpustakaan, mulai dari perubahan pola pencarian informasi hingga transformasi layanan berbasis teknologi.
Wakil Rektor Bidang Pembelajaran dan Riset Universitas Mercu Buana, Dr. Erna Setiany, S.E., M.Si., mengatakan perkembangan AI perlu dipandang sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan layanan informasi, bukan sebagai ancaman terhadap peran manusia.
"Pemanfaatan Artificial Intelligence perlu disikapi secara bijak. Kehadiran AI bukan untuk menggantikan peran manusia, melainkan menjadi teknologi pendukung yang mampu meningkatkan efektivitas proses belajar, penelitian, serta pelayanan informasi di lingkungan perguruan tinggi," ujar Erna.
Menurut Erna, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami aspek etika, validitas informasi, dan integritas akademik di tengah berkembangnya AI generatif.
Narasumber webinar, Ari Nugraha, S.Hum., M.T.I., Ph.D., dosen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa AI telah menggeser paradigma layanan perpustakaan dari sekadar penyedia koleksi menjadi penyedia layanan informasi yang semakin personal dan adaptif.
Pemanfaatan AI, kata Ari, memungkinkan perpustakaan menghadirkan sistem pencarian informasi yang lebih presisi, rekomendasi koleksi berdasarkan kebutuhan pengguna, otomatisasi pengelolaan metadata, hingga chatbot yang mampu melayani pertanyaan pengguna selama 24 jam.
Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, Ari mengingatkan bahwa penerapan AI tetap menyisakan tantangan yang tidak sederhana.
"Persoalan privasi data, keamanan informasi, bias algoritma, hingga kemampuan pengguna dalam memverifikasi informasi harus menjadi perhatian. AI dapat mempercepat akses terhadap informasi, tetapi tidak otomatis menjamin kualitas ataupun kebenaran informasi yang diterima," ujarnya.
Karena itu, menurut Ari, literasi informasi menjadi kompetensi yang semakin penting di era AI. Mahasiswa dan pustakawan dituntut tidak hanya mahir memanfaatkan teknologi, tetapi juga mampu mengevaluasi kredibilitas sumber informasi dan menggunakan AI secara etis.
Diskusi yang dimoderatori Kepala Biro Perpustakaan Universitas Mercu Buana, Muhammad Arif Budiyanto, S.Kom., M.Hum., berlangsung interaktif. Peserta mengajukan berbagai pertanyaan mengenai implementasi AI di perpustakaan perguruan tinggi, kesiapan kompetensi pustakawan, hingga strategi membangun budaya literasi digital di lingkungan akademik.
Melalui webinar tersebut, Perpustakaan Universitas Mercu Buana menegaskan bahwa transformasi digital di sektor perpustakaan tidak semata ditentukan oleh adopsi teknologi, tetapi juga oleh kesiapan sumber daya manusia dalam mengelola informasi secara kritis, etis, dan bertanggung jawab. Di tengah pesatnya perkembangan AI, perpustakaan dinilai tetap memegang peran strategis sebagai penjaga kualitas pengetahuan sekaligus pusat literasi bagi masyarakat akademik.
Berita Terbaru Lainnya
Sabtu, 18 Juli 2026
Sabtu, 18 Juli 2026