Kolaborasi antarperguruan tinggi menjadi faktor kunci dalam pengembangan riset berkelanjutan yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan industri dan potensi daerah. Hal tersebut mengemuka dalam seremoni penandatanganan kerja sama antara Universitas Mercu Buana (UMB), Universitas Muhammadiyah Kendari, dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari yang berlangsung di Kampus Universitas Mercu Buana, Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Kerja sama yang difasilitasi Biro Kerja Sama Universitas Mercu Buana ini diarahkan untuk memperkuat sinergi tridarma perguruan tinggi—pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat—melalui pendekatan kolaboratif lintas institusi dan disiplin ilmu.

Rektor Universitas Mercu Buana, Prof. Dr. Ir. Andi Adriansyah, M.Eng., menegaskan bahwa tantangan riset ke depan semakin kompleks dan tidak dapat dijawab secara parsial oleh satu institusi.

“Kita berada pada era kebersamaan dan sinergi. Perguruan tinggi tidak bisa lagi berkembang dengan mengandalkan kapasitas internal semata. Jejaring kerja sama menjadi prasyarat untuk menghasilkan riset yang berkelanjutan dan berdampak,” ujar Andi Adriansyah.

Dari perspektif kawasan dan industri, Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, Prof. Dr. Ir. Muhammad Nurdin, M.Sc., IPU., ASEAN Eng., menilai kerja sama ini strategis karena menghubungkan kekuatan akademik dengan potensi sumber daya alam daerah, khususnya nikel di Sulawesi Tenggara.

Menurut dia, riset berbasis potensi lokal perlu dikembangkan secara kolaboratif agar mampu menjawab isu keberlanjutan, hilirisasi, dan kebutuhan industri nasional.

Kolaborasi tersebut juga melibatkan Pusat Riset Nikel dan Nano Energi (PR-N2E). Direktur PR-N2E, Dr. Zul Arham S.Si., M.Si., menekankan pentingnya integrasi riset dasar dan terapan melalui kerja sama lintas bidang, termasuk pengembangan teknologi sensor dan perangkat pendukung.

Ia menyebutkan bahwa riset sensor, termasuk sensor pestisida, memiliki relevansi langsung dengan isu keamanan pangan dan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG), sehingga membutuhkan dukungan ekosistem riset yang kuat antara perguruan tinggi dan laboratorium terapan.

Seremoni penandatanganan kerja sama ini dihadiri 38 peserta yang terdiri atas pimpinan universitas, dekan, peneliti, serta perwakilan mahasiswa. Hadir pula Dekan Fakultas Teknik Universitas Mercu Buana, Dr. Zulfa Fitri Ikatrinasari, M.T.

Melalui kolaborasi ini, ketiga perguruan tinggi berharap dapat membangun model riset berkelanjutan yang mengintegrasikan kekuatan akademik, kebutuhan industri, serta potensi daerah, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan nasional berbasis pengetahuan.