Jakarta, — Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Mercu Buana (UMB) menggelar kegiatan Pemeliharaan dan Pemantauan Kinerja Asesor Kompetensi di Aula Rektorat Universitas Mercu Buana, Selasa (13/1). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan peran asesor dalam memastikan kompetensi lulusan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Rektor Universitas Mercu Buana Prof Dr Andi Adriansyah, M.Eng., dalam sambutannya menekankan pentingnya penguatan ekosistem sertifikasi kompetensi di lingkungan perguruan tinggi. Ia berharap UMB segera menyiapkan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) sebagai bagian dari strategi penguatan kompetensi lulusan.
“Ke depan, Universitas Mercu Buana perlu menyiapkan LPK agar proses pembelajaran, pelatihan, dan sertifikasi kompetensi dapat terintegrasi secara lebih sistematis,” ujar Andi Adriansyah.
Komisioner Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Prof Dr Amilin, S.E., S.H., M.Si., AK., CA., QIA., BKP., CRMP., yang menjadi narasumber utama, memaparkan materi berjudul Bridging the Gap: Sertifikasi Kompetensi sebagai Jembatan antara Teori Kampus dan Tuntutan Industri. Ia menegaskan bahwa sertifikasi kompetensi memiliki peran strategis dalam mengurangi kesenjangan antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri.
Amilin juga mendorong agar LSP Universitas Mercu Buana dapat menjadi rujukan bagi perguruan tinggi lain dalam pengelolaan sertifikasi kompetensi. “Saya berharap LSP UMB bisa menjadi benchmark bagi perguruan tinggi lainnya dalam mengembangkan sistem sertifikasi yang kredibel dan relevan dengan industri,” katanya.
Lebih lanjut, Amilin menekankan pentingnya competency mapping dan strategic partnership yang berkelanjutan dengan industri. Menurut dia, kolaborasi perguruan tinggi dan dunia usaha tidak cukup hanya melalui kegiatan job fair atau bimbingan penyusunan curriculum vitae, tetapi harus menyentuh aspek pemetaan kompetensi dan kebutuhan riil industri.
Ketua LSP P1 Universitas Mercu Buana Haekal Fajri Amrullah, S.I.Kom., M.Sc., menyoroti masih adanya kesenjangan antara lulusan perguruan tinggi dan dunia kerja. Ia menilai sertifikasi kompetensi menjadi salah satu jawaban untuk memenuhi standar yang dibutuhkan industri.
“Masih ada gap antara lulusan perguruan tinggi dengan dunia kerja. Kompetensi yang terstandar dan diakui industri menjadi kunci untuk menjembatani kesenjangan tersebut,” ujar Haekal.
Menurut Haekal, LSP P1 memiliki peran sebagai integrator dan katalis yang mampu menerjemahkan kebutuhan industri ke dalam kurikulum dan skema sertifikasi. LSP tidak hanya menerbitkan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI), tetapi juga menjamin bahwa lulusan memiliki kompetensi yang benar-benar diakui dunia kerja. Penguatan ekosistem ini dilakukan dengan menghubungkan dosen, asesor, industri, dan mahasiswa secara terpadu.
Sementara itu, narasumber kedua, Master Asesor Tetty DS Ariyanto, menekankan peran strategis asesor dalam proses sertifikasi. Ia menegaskan bahwa asesor sejatinya bertugas memastikan keberhasilan asesi dalam menunjukkan kompetensinya.
“Tugas asesor adalah menyukseskan asesi, bukan membunuhnya,” kata Tetty. Ia menambahkan bahwa dalam konteks dunia industri, employability skills menjadi aspek penting yang harus dimiliki oleh setiap lulusan selain kompetensi teknis.
Melalui kegiatan ini, Universitas Mercu Buana menegaskan komitmennya dalam memperkuat peran LSP P1 sebagai instrumen peningkatan daya saing lulusan, sekaligus membangun kembali kepercayaan industri terhadap perguruan tinggi sebagai penyedia sumber daya manusia yang kompeten dan siap kerja.
Berita Terbaru Lainnya
Kamis, 15 Januari 2026
Kamis, 15 Januari 2026
Selasa, 13 Januari 2026
